arismaduta.org

Napak Tilas Pendakian Wilis (Bagian 3) PDF Cetak E-mail
  
Selasa, 01 Desember 2009 08:39

Semakin malam suasana semakin hening. Sebagian orang yang tadi ngobrol di api unggun masuk dome. Pada saat itu (sekitar pukul 1 pagi) ada sebagian yang mendengar suara orang minta tolong. Katanya (aku sendiri tidak mendengar apa-apa) suara itu terdengar dari arah kedatangan kami tadi siang. Suara itu terdengar jauh dan lirih, tersamar dengan suara hujan dan angin. Ada juga beberapa orang di sekitar api unggun yang bilang sempat melihat kilatan senter.

 

Aku sendiri tidak mendengar suara ataupun melihat kilatan lampu senter. Kurasa terlalu beresiko melakukan pendakian saat malam dan hujan seperti ini. Dengan kondisi seperti ini, kurasa seorang pendaki akan lebih baik menghentikan pendakian dan mencari tempat berlindung yang aman sambil menunggu cuaca membaik. Kalaupun ternyata suara dan kilatan senter itu memang ada, aku juga akan berpikir panjang untuk menolong. Dalam kondisi gelap dan medan licin seperti itu, mencari dan menolong orang bukanlah tindakan bijaksana, terutama kami tidak hapal kondisi medan di sekitar puncak. Kalau salah melangkah, bisa-bisa nanti masuk televisi :) Walau demikian, kami siap untuk semua kemungkinan. Jika memang ada pendaki yang membutuhkan pertolongan, jaraknya tidak jauh, dan kami yakin medannya aman, pastilah kami akan menolong.

 

Pukul 3 pagi, semua tertidur, termasuk yang sebelumnya kumpul di sekitar api unggun. Hanya aku saja yang masih terjaga. Tak masalah sekarang aku jaga sendirian, toh aku belum ngantuk (masih terbawa suasana shift malam). Rencananya besok ketika yang lain sudah bangun, ganti aku yang tidur. Tentang suara minta tolong dan kilatan senter, aku tidak tahu masih ada atau tidak sebab sebelumnya aku tidak dengar dan lihat semua itu. Jadi ya cuek saja. Perhatianku tertuju pada api unggun. Kayu tinggal sedikit, aku harus bisa mengatur agar api ini bisa bertahan hingga besok pagi. Jika tidak, kami akan kedinginan diguyur hujan.

 

Setelah beberapa lama aku jaga sendirian, kurasakan suasana mulai berubah. Langit sedikit lebih terang dari sebelumnya. Saat mendung bergerak, aku sempat melihat posisi bulan sudah bergeser ke arah barat. Yup, kurasa hari sudah menjelang pagi. Aku solat Shubuh dan kembali jaga di dekat api unggun. Beberapa saat kemudian beberapa orang mulai bangun. Kami langsung bahas sekenario terburuk, langkah yang akan kami ambil jika hujan tidak reda. Pada dikusi itu kami putuskan, jika sampai siang hujan tidak reda, mau tak mau kami akan turun juga.

 

Sesuai rencana, pukul 5:30 semua peserta dibangunkan. Saat itu cuaca mulai berubah. Angin berhembus kuat ke arah barat, mendorong awan melewati kami. Sedikit demi sedikit cahaya mahatari mulai muncul dari arah timur. Alhamdulilah, akhirnya hujan berakhir juga. Lega rasanya. Kesempatan emas ini langsung kami gunakan untuk masak. Menu masak kalli ini tidak jauh beda dengan sebelumnya, nasi, sup, minuman berenergi, mie instant, dan sedikit sarden. Ini adaah masak yang terakhir, jadi hampir semua bahan makanan dimasak. Yang tersisa hanya mie instant (sisa banyak sekali).

 

Setelah makan kami langsung mengemas barang-barang untuk persiapan pulang. Pukul 9 pagi semua persiapan selesai, kami siap untuk turun. Sodik menawarkan rute pulang yang berbeda. Setelah sampai Watu Godek, Sodik menawarkan untuk belok ke arah air terjun. Pemandangan di jalur ini lebih indah karena bisa melihat langsung air terjunnya. Kami lakukan voting untuk usulan ini dan suara terbanyak menginginkan untuk pulang lewat air terjun. Kalau tidak salah yang setuju lewat air terjun 13 orang, sisanya tidak setuju dan abstain. Bagiku 13 adalah angka keramat :D, tapi sepertinya kali ini 13 akan benar-benar jadi angka sial.

 

Kami mulai bergerak pulang. Seperti biasa, aku berada di barisan depan (Ndun-Ndun paling depan, sebagai penunjuk jalan). Tak lama kami turun, aku merasa ngantuk. Yah, semalam aku memang nyaris tak tidur sama sekali. Kebiasaan selama ini saat masuk shift malam memang aku tidur jam 9 pagi. Jadi,,,siklus boilogis itu berulang lagi. Dengan mata yang mulai berat kulangkahkan kaki menyusuri punggungan yang menurun ini.

 

Seperti rencana, dari Watu Godek kami belok ke arah air terjun. Di sungai itu kami ambil air sebagai persediaan. Sebagian juga menyempatkan diri untuk cuci muka, maklum sudah 3 hari tidak mandi. Hehehe,,,,, dari sungai jalurnya sedikit menanjak, tapi kemudian turun lagi. Dan ujian dimulai,,,,,

 

Jalur ini berupa punggungan juga, tapi lebih curam. Sudut kemiringannya kira-kira 70 – 90 derajat. Yup, ada titik tertentu yang kemiringannya 90 derajat. Ditambah dengan tanah yang licin karena semalaman hujan, jalur ini menyajikan pengalaman tersendiri.

 

Pergerakan kami menjadi sangat lambat. Tidak jarang peserta terpeleset. Keadaanku sendiri tidak terlalu baik. Dengan mata yang berat, turunan yang curam, dan jalan yang llicin, rekor terpelesetku naik drastis dari 2 kali sebelum Watu Godek menjadi 8 selama jalur ini. Pernah suatu ketika aku terpeleset dan meluncur langsung ke bawah. Jalan di bawahku berbelok ke kanan. Untung saat itu Manda yang ada di depanku sempat menarik ranselku. Untung pula di ujung jalan ini ada pohon yang bisa kutabrak. Kalau tidak, pasti aku sudah masuk koran lokal.

 

Yang tak kalah “serunya” adalah Neo. Dia terpeleset dan langsung menuju bibir jurang. Untung, sekali lagi untung, ada pohon. Kalau tidak, mungkin Neo sudah jatuh ke jurang dan jadi “kenangan”. Hehehe,,,,, peace,,,, Yah, jalur ini memang istimewa. Untuk pertama kalinya dalam semua pendakianku, aku “benci” lihat turunan.

 

Untuk pemandangan, memang jalur ini bisa dibilang istimewa. Ada titik tertentu yang memungkinkan untuk melihat air terjun secara keseluruhan. Di tempat ini aku sempatkan foto-foto dengan beberapa orang. Untuk ketinggian air terjun ini, aku tidak tahu. Kurasa lebih dari 100 m. yang jelas air terjun ini terlihat sangat anggun.

 

Pukul 13:15 kami sampai di persimpangan. Jalan ke kiri menuju ke air terjun, sedangkan jalan ke kanan (lurus) ke Penampihan. Kuminta pada teman-teman untuk melanjutkan perjalanan langsung ke Penampihan saja. truk yang menjemput kami tiba pukul 2 siang, rasanya waktunya terlalau mepet untuk bermain di air terjun. Setelah dikusi sebentar, akhirnya kami sepakat untuk melanjutkan perjalanan langsung ke Penampihan.

 

Jalan dari pertigaan itu hingga Penampihan didominasi jalan datar, hanya ada sedikit turunan. Di kanan dan kiri jalan rata-rata kebun penduduk. Pada bagian ini rasa kantukku sudah memuncak. Rasanya berat sekali melangkahkan kaki ini. Apalagi kakiku mulai terasa sakit, kini kusadari terlalu banyak turunan (apalagi turunan curam) juga tidak baik untuk kaki. Walaupun demikian, aku tetap berjalan, mengingat jarak ke penjemputan tidak terlalau jauh lagi.

 

Setelah 1 jam berjalan, aku sampai di tempat penjemputan, tempat yang sama ketika kami diturunkan dari truk 2 hari yang lalu. Yup, seperti yang sudah-sudah, truknya telat. Saat sampai di tempat itu yang kutemui hanya beberapa peserta saja. “Ya sudahlah, kita tunggu saja truknya”, gumamku. Akhirnya kulepas ranselku, kusandarkan punggungku ke tugu kecil, kututup wajahku dengan slayer hitam bersejarah, dan akhirnya aku tidur juga.

 

Begitulah pendakianku ke gunung Wilis, pendakian ulang setelah 9 tahun berlalu. Terimakasih pada semua peserta dan panitia yang telah memfasilitasi pendakian ini. Terimakasih pula pada para alumni yang sempat ikut dalam pendakian ini. Semoga ke depan aku masih punya banyak waktu luang untuk melakukan pendakian bersama lagi. Amin.

 

 

Login



Slide Show

  • An Image Slideshow
  • An Image Slideshow
  • An Image Slideshow
  • An Image Slideshow
  • An Image Slideshow
  • An Image Slideshow

Berita Singkat

Ade Satrio terpilih sebagai ketua umum Arismaduta untuk masa bakti 2010/2011
 
Arismaduta keluar sebagai juara pertama dalam Semarang Bird Watching Race 2009 untuk kategori pelajar
 
Pendidikan dan Latihan Arismaduta XI akan mengambil navigasi sebagai temanya, sama seperti diklat sebelumnya