| Napak Tilas Pendakian Wilis (Bagian 2) |
|
|
|
| Selasa, 01 Desember 2009 08:37 | |
|
Bangun, itulah kata yang kuragukan di hari kedua ini. Kurasa semalam aku tidak tidur. Tempat yang kupilih untuk tidur ternyata tidak nyaman, medannya miring dan banyak akar pohon yang keras. Sekitar pukul 2-3 kabut turun, mirip hujan rintik-rintik. Meskipun hujannya tak lama, tapi lumayan bisa membuat tubuh kaku. Selain medan yang jelek dan kabut yang turun, aku masih terbawa nuansa kerja shift malam, tidak tidur hingga pagi. Alhasil, malam ini mata susah ditutup.
Meskipun malam ini aku tidak tidur, tapi apa boleh buat, hari ini banyak hal yang harus dikerjakan, perjalanan harus dilanjutkan. Pukul 5 aku Sholat subuh. Setelah itu kuambil 2 jurigen kosong (entah milik siapa) untuk ambil air. Watu Godek terletak di atas air terjun sehingga persediaan air melimpah. Jarak dari Watu Godek ke air terjun sekitar 500 m. Pada pendakianku yang pertama dulu aku juga ambil air dari air terjun ini. Seingatku medan ke air terjun tidak terlalau berat dan jauh. Oleh karena itu 2 jurigen itu kubawa dengan tangan. Tapi, untuk sekian kalinya ingatanku salah. Jalan ke air terjun lumayan curam. Saat berangkat tidak masalah, tapi untuk kembali pasti akan berat, apalagi 2 tanganku aku harus menenteng jurigen. Karena itulah kuputuskan tidak ambil air di air terjun. Air kuambil dari aliran air kecil yang kutemukan di tengah jalan. Meskipun alirannya kecil, airnya jernih, cukup untuk minum dan masak. Saat ambil air itu sayup-sayup kudengar suara teman-teman yang lain lewat di atasku untuk ambil air di air terjun.
Saat aku ambil air, yang lain sibuk menyiapkan sarapan. Menu kali ini, nasi, sup, mie, dan sambal ikan asinku yang masih tersisa :D Acara masak di pendakian ini sedikit berbeda dengan pendakianku yang pertama. Pada pendakian pertama, masak dilakukan dalam kelompok-kelompok kecil, tidak dalam 1 dapur seperti sekarang. Alhasil, peserta pun makan berbagai menu yang berbeda. Selama pendakian aku masak bareng dengan mas Nanang. Dari segi bekal, bekal yang kubawa pada pendakian pertama dulu sangat sederhana. Untuk pendakian selama 3 hari aku bawa 1/2 kg beras, 6 buah mie instant, 6 sachet energen sereal, dan 3 telur rebus. Hanya itu saja, tapi bekal itu cukup untuk sampai ke puncak :)
Pukul 9 pagi kami lanjutkan perjalanan. Medan yang ditempuh kali ini tidak jauh beda dengan sebelumnya. Medannya berupa punggungan yang diapait jurang, tapi kemiringannya lebih tajam dan vegetasi di kanan-kirinya lebih jarang. Di beberapa tempat kami bisa melihat hingga jauh ke bawah jurang. Aku ingat sekali bagian ini. Pada pendakian pertamaku, di bagian ini aku ada di depan bersama dengan Darti dan Agus. Tapi, berhubung Darti dan Agus melambat, aku jalan sendirian di depan. Saat itu kupacu kakiku dengan penuh semangat. Tekadku hanya 1, untuk menjadi orang pertama yang samnpai di puncak. Aku nyaris menjadi yang pertama seandainya tidak disusul dan dihentikan pak Totok. Yah,,,, nasib,,,,
Pada pendakian kali ini, di bagian ini aku dan Ndun-Ndun berjalan di depan, seperti kemarin. Kami jalan pelan-pelan. Tak bisa dipungkiri, bagiku bagian ini terasa berat juga, tidak seperti pendakian pertama dulu. Selain tadi malam aku kurang tidur, berat badanku sekarang 12 kg lebih berat dari yang dulu. Itu sama saja dengan bawa 2 ransel. Hehehe,,,,,
Di tengah perjalanan kami bertemu dengan tim yang turun. Jumlahnya 6 orang, dari Surabaya. Meraka sudah menjelajahi 4 pundak di sekitar Puncak Wilis ini dan sekarang waktunya mereka pulang. Yang membuatku terkesan, mereka sudah 6 hari di kawasan pucak ini. Kemah atau pendakian selama 6 hari bukan hal yang aneh bagiku. Yang aneh adalah tempat ini. Setahuku di sekitar kawasan puncak ini tidak ada sumber air. Jadi, darimana mereka dapatkan air? Atau jangan-jangan airnya didaur ulang???? Hehehe,,,,
Mendekati puncak, medan berubah. Jalan jadi lebar, tidak terlalu menanjak, dan tidak diapit jurang lagi (di bagian inilah aku dulu “dihentikan” pak Totok). Ya, kami memang sudah keluar dari jalur punggungan dan sangat dekat dengan puncak. Pohon di bagian ini mulai jarang, kami bisa berjalan dengan leluasa. Di bagian ini biasanya banyak lubang sarang kelinci dan begonia. Tapi, kali ini sepertinya kami kurang beruntung. Kami tak temui 1 pun begonia. Bagi yang belum tahu, begonia mirip dengan talas air, tapi ukurannya jauh lebih kecil. Tanaman ini bisa langsung dimakan, mulai dari daun, batang, hingga bunganya. Tapi bersiap-siaplah untuk senam mulut, rasanya sangat asam, seasam blimbing sayur. Jadi, bagi yang punya sakit maag, sangat tidak disarankan untuk makan begonia, apalagi saat perut kosong.
Sekitar 100 m dari puncak, vegetasi berubah drastis. Di bagian ini yang ada hanya ilalang yang tingginya sekitar 140 cm. medannya pun bisa dibilang mudah, lumayan datar. Di bagian ini peserta yang akan mengambil scraft angkatan disuruh berhenti, panitia dan peserta yang lain disuruh lanjut hingga ke puncak. Tujuannya sederhana, agar kami bisa menjabat tangan dan mengucapkan selamat pada yang mengambil scraft.
Sebelum upacara penyematan scraft angkatan dilakukan, Uzi (kalau tidak salah) memintaku untuk jadi Pembina upacara. Waduh, aku tidak siap, apa yang harus kusampaikan dalam amanat nanti? Setelah putar otak sebentar, akhirnya aku dapat ide.
Upacara penyematan scraft angkatan dimulai sekitar pukul 13:30. Dengan upacara ini 13 orang resmi menjadi Anggota Penuh. Dalam upacara ini kusampaikan pentingnya menjaga integritas Arismaduta secara keseluruhan. Tak bisa dipungkiri, berbagai aktivitas bersama dalam 1 angkatan pasti menumbuhkan ikatan kuat dalam angkatan itu. Solidaritas dan kebersamaan dalam 1 angkatan itu wajar. Akan tetapi, solidaritas tersebut tidak boleh mengalahkan integritas Arismaduta secara keseluruhan. Setiap anggota harus memiliki rasa kebersamaan yang kuat dengan anggota dari angkatan lain. Hanya dengan itu Arismaduta akan berembang. Namun, jika tiap anggota membangga-banggakan angkatannya sendiri-sendiri, merasa lebih baik dari angkatan lain, dan tidak bisa bekerja sama dengan anggota dari angkatan lain, maka kehancuran Arismaduta ada di depan mata.
Setelah upacara selesai, kami berfoto-foto sebentar. Saat itu 4 orang anggota TAPA (Zulni, Gunanda, Oka, dan Yukser) bergabung dengan kami. Mereka baru pulang dari Lawu dan langsung ke Wilis. Dengan demikian, jumlah kami menjadi 30 orang.
Setelah semua prosesi itu selesai, acara selanjutnya adalah masak bersama. Inilah momen yang dinanti-nati. Setelah lelah mendaki, perut harus diisi agar tenaga bisa pulih seperti sedia kala. Sebelum masak, semua bahan makanan yang dibawa dirazia dan dikumpulkan jadi 1. Dengan demikian tim logistik bisa mengatur penggunaan makanan dengan baik. Menu makan kali ini tidak jauh berbeda dengan menu tadi pagi. Pada acara masak kali ini aku tidak banyak membantu. Selama yang lain masak, aku tidur di dome :D Lumayan tidur sebentar untuk balas dendam karena semalam tidak bisa tidur.
Menjelang petang, cuaca mulai berubah. Langit yang semula cerah mulai berawan. Setelah BAB dan sholat Maghrib, aku gabung dengan teman-teman yang lain di sekitar api unggun. Seperti malam sebelumnya, acara malam ini adalah evaluasi selama pendakian. Evaluasi berlangsung hingga pukul 9 malam. Setelah itu, acara bebas. Sebagian peserta tidur di dome yang didirikan mengelilingi api unggun. Hanya sebagian kecil saja yang masih bertahan, menikmati murungnya malam sambil ngobrol kesana-kemari. Aku tidak tahu persis kapan mulainya, yang jelas gerimis mulai sudah turun sejak kami evaluasi. Sungguh sangat berbeda dengan malam sebelumnya. Di Watu Godek cuaca begitu cerah sehingga bulan purnama dapat dinikmati sepuas-puasnya. Di puncak ini kami tidak bisa lihat apa-apa. Yang ada hanya rintik hujan dan angin yang membuat badan kaku.
Mungkin pukul 10 malam, perutku tidak bisa diajak kompromi. BAB tadi sore ternyata belum tuntas. Tapi, persediaan air juga sudah sedikit, aku harus berhemat. Setelah BAB, aku pakai daun-daunan yang basah karena hujan untuk cebok. Sebelum kupakai, daun itu kuperiksa dulu, kalau sampai ada ulatnya,,,, bahaya. Hehehe,,,, Setelah dirasa cukup, aku cebok lagi dengan air. Dengan begitu, penggunaan air bisa diminimalkan. Ya, mungkin hal ini terdengar menjijikkan. Tapi trik ini bukan untuk dibayangkan, tapi untuk dipraktikan. Kalau persediaan air menipis, mau tak mau cara-cara seperti ini harus dilakukan.
Pada pendakian Wilis-ku yang pertama dulu cuaca saat di puncak sangat cerah. Saat itu kami tidak bawa dome sama sekali. Yah, saat itu Arismaduta memang belum punya banyak peralatan seperti sekarang ini. Saat itu kami tidur di sekitar api unggun. Dengan beralaskan matras, kami tidur sambil menikmati indahnya bintang di langit. Sesekali ada bintang jatuh melintas di atas kami. Sungguh pemandangan yang sangat indah.
Pada pendakian kedua ini kami bawa banyak dome. Hampir semua peserta tidur di dome, hanya sedkit sekali yang berjuang melawan dinginnya gerimis di sekitar api unggun. Aku ikut ngobrol dengan yang lain di sekitar api unggun (kalau tidak salah dome-ku dipakai Imam dan Sodik). Sekitar pukul 11 malam, saat yang di dome sudah mulai terlelap, ada yang ambil sebagian makanan. Hehehe,,,, kurasa cukup adil. Wajar kan kalau yang bertugas jaga malam dapat sedikit intensif. Saat itu kami ambil sebagian sosis, ketela, mie dan energen. Hmmm,,,, enak rasanya makan bareng saat dingin seperti itu. Yang paling seru adalah masak sosisnya. Sosis itu kami tusuk dengan kayu kemudian kami bakar. Ada yang tusuknya terbakar, ada yang sosisnya gosong, ada pula yang dikejar-kejar asap. Pokoknya seru lah :D
|


