| Napak Tilas Pendakian Wilis (Bagian 1) |
|
|
|
| Selasa, 01 Desember 2009 08:32 | |
|
Pada awal bulan Juli 2009 ini aku memperoleh kesempatan untuk ikut pendakian Gunung Wilis yang diadakan Arismaduta. Ini adalah pendakian Wilis-ku yang kedua, pendakianku yang pertama kulakukan 9 tahun lalu. Ada beberapa hal menarik dari pendakian ini. Pendakian yang pertama kulakukan pada tanggal 2-4 Juli (2000) sedangkan pendakian kedua ini tanggal 5-7 Juli (2009). Pada pendakian pertama aku belum menjadi anggota Arismaduta. Aku ikut pendakian hanya sekedar ikut-ikutan saja. Pada pendakian kedua ini statusku juga bukan anggota Arismaduta lagi, aku sudah jadi alumni. Pendakian pertama kulakukan dengan angkatan 1 sedangkan pendakian kedua ini kulakukan dengan angkatan 10 (cuma beda angka nol ^^).
Dari segi persiapan, satu kata yang tepat, “parah”. Sebelum pendakian ini aku kena jatah shift malam, kerja dari jam 7 malam hingga 7 pagi selama 3 minggu. Hal ini tentu saja merontokkan staminaku. Siklus tidur dan jadwalku jadi berantakan. Dengan sistem kerja seperti itu aku tidak punya banyak waktu untuk mempersiapkan fisik. Sebelumnya pernah terpikir untuk tidak ikut pendakian ini, tapi sepertinya itu bukan ide yang bagus. Bagiku pendakian ini punya arti penting. Pendakian ini kujadikan persiapan untuk menghadapi pendakian yang lebih berat, pendakian Semeru.
Dari kabar yang kuperoleh, rombongan akan berangkat dari SMU 1 Boyolangu sekitar pukul 1 siang. Aku sengaja tidak berangkat dari sekolah, toh nantinya rombongan akan lewat depan rumahku. Aku naik dari depan rumah saja. Dengan demikian aku punya cukup waktu untuk menyiapkan perbekalan. Seperti biasanya, pada pendakian ini aku membawa beras yang sudah dikeraskan (istilah Jawanya dikekelke). Setelah dicuci, beras dikukus (bukan direbus lo ya) hingga berubah warna dan lebih lunak, sekitar 15-20 menit. Selanjutnya beras dikeringkan dengan cara meletakkannya di nampan luas dan dibiarkan kena angin. Pengeringan ini sangat penting. Jika pengeringan kurang sempurna, maka beras akan cepat busuk dan berjamur. Beras yang sudah dikeraskan ini sangat baik untuk camping. Selain lebih cepat matang, nasi yang dihasilkan juga tidak lengket. Teknik ini sudah diterapkan hampir di semua pendakian dan campingku.
Pukul 2 lebih sedikit truk yang mengangkut rombongan sampai di rumahku. Yup, waktunya gabung dengan yang lain. Ada 26 orang yang ikut pendakian ini, termasuk 9 bidadari. Dari 26 orang itu 13 orang diantaranya melakukan pendakian untuk dilantik menjadi Anggota Penuh Arismaduta, 2 orang dari angkatan Puncak Surya, 1 orang angkatan Eka Rimba, dan 10 orang angkatan Lintas Dasa.
Dari rumahku rombongan melanjutkan perjalanan ke Penampihan, tempat terakhir yang bisa dijangkau kendaraan besar. Sebelumnya kami berhenti dulu di Polsek Sendang untuk melaporkan pendakian ini. Kami sampai di Penampihan kira-kira pukul 15:30 wib. Setelah berdoa bersama, kami lanjutkan perjalanan ke Candi Penampihan. Jalan yang kami lewati cukup lebar dan terbuat dari batu. Jalan ini berupa tanjakan yang tidak terlalu terjal. Dengan demikian perjalanan tidak terlalu berat.
Pukul 16 sore kami telah sampai di sebuah sungai kecil di atas Candi Penampihan. Tempat ini,,,, iya, aku ingat tempat ini. Pada pendakian Wilis-ku yang pertama, kami bermalam di tempat ini. Di tempat ini pula aku dan beberapa teman pernah berkemah yang pada malam harinya “dikunjungi” babi hutan. Itu adalah salah satu pengalaman buruk dalam hidupku. Tempat ini memang cocok untuk menginap. Air sungainya sangat jernih sehingga bisa langsung diminum. Tak jauh dari sungai ada tanah datar, tidak terlalau luas, tapi cukup untuk 5 tenda kecil.
Berbeda dengan pendakian pertamaku, kali ini kami tidak bermalam di sini, rencananya kami bermalam di Watu Godek. Di tempat ini kami hanya singgah untuk ambil air dan sholat Ashar saja. hmmm,,,, senang rasanya sholat di alam bebas, ada perasaan yang beda dibanding sholat di rumah, kos, atau masjid. Sholat di alam bebas terasa seperti langsung berhadapan dengan Yang Maha Kuasa.
Kira-kira setengah jam kemudian kami lanjutkan perjalanan. Medan pertama yang kami hadapai adalah punggungan yang telah menjadi perkebunan penduduk. Di beberapa tempat vegetasi telah rusak, bahkan ada sebagian yang sengaja dibakar (untuk membuka lahan). Hal ini sedikit menyulitkan kami. Vegetasi yang rusak membuat jalan ke Wilis tersamar. Tapi untunglah jalan tersebut bisa kami “kenali”.
Medan kedua yang kami lalui berupa punggungan sempit, sekitar 1-1,5 m, yang diapit vegetasi rapat di kanan-kirinya. Medan ini mulai berat, kemiringannya sekitar 45-60 derajat dan jarang ada medan datar, apalagi turunan. Pada bagian ini kami mulai sering istirahat. Selain itu, di beberapa tempat jalan tertutup tumbuhan atau duri. Dengan begitu Ndun-Ndun yang berada di depan harus kerja ekstra untuk membuka jalan (saat itu aku dan Ndun-Ndun di depan, penyapu ranjaunya kalau tidak salah Sodik). Pernah suatu ketika ada duri yang melintang di jalan. Karena tak sabar, langsung kuinjak duri itu. “Aduh,,,,”, terdengar suara Ndun-Ndun kesakitan. Ternyata duri yang melintang itu sempat nyangkut di topinya Ndun-Ndun. Ketika kuinjak, duri itu langsung menggores mukanya. Hehehe,,,,sory Ndun,,,,,,
Dengan kondisi seperti ini, tak ayal perjalanan menjadi sangat lambat. Awalnya aku masih semangat, tapi lambat laun aku pesimis. Aku tak yakin kalau kami bisa sampai Watu Godek tepat waktu. Dengan kondisi seperti itu, kukira kami akan sampai Watu Godek tengah malam. Rasa pesimis ini semakain lama semakin menjadi, apalagi kalau dengar teriakan “istirahat”. Kurasa Watu Godek tak kan tercapai.
Ada 1 hal yang “aneh” dalam perjalanan ini. Di tengah perjalanan kami menjumpai jaket. Jaket? Iya, jaket. Jaket berwarna biru tua itu ditambatkan di dahan, tingginya kira-kira 1 m. Berbagai pertanyaan dan prasangka langsung memenuhi otakku. Ini jaket siapa dan mengapa ditambatkan di sini? Jika dilihat dari kondisinya, sepertinya jaket ini masih baru. Berarti ada yang baru saja menaruhnya di situ. Tapi, untuk apa? Jika untuk penanda agar tidak tersesat, rasanya kok tidak mungkin. Jalan setapak itu adalah punggungan, pasti mengarah ke 1 arah. Di dekatnya memang ada pertigaan, tapi kalau untuk penanda agar tidak tersesat, mengapa ditaruh di bagian atas pertigaan? Seharusnya ditaruh di bawah pertigaan agar lebih mudah dilihat. Hal ini benar-benar aneh. Tapi, aku tak ambil pusing. Biarlah jaket itu ada di situ seperti apa adanya. Saat turun dari Wilis 2 hari kemudian kami juga tidak bisa meyakinkan keberadaan jaket itu lagi karena kami ambil jalan lain.
Sekitar pukul 20:30 kami mulai menemukan turunan. Awalnya aku senang ada turunan, tapi kemudian aku ragu sebab turunan ini panjang dan semakin menurun. Aku takut kami salah jalan. Setelah diskusi sebentar dengan Ndun-Ndun, aku berjalan di depan untuk melihat kondisi. Seingatku medan sebelum Watu Godek memang turun, tapi tidak sedalam ini. Aku terus berjalan hingga,,,,,, Apa ini? Ada seonggok benda berbentuk seperti silinder tegak berwarna putih tepat di depanku. Aku tertegun sebentar, sinar bulan purnama agak terhalang pepohonan sehingga aku susah mengenali benda ini. Baru setelah Ndun-Ndun mendekat aku sadar kalau ini adalah karung putih yang diikat di atas pohon. Medan di depanku memang turun tajam, sekitar 2 m, sehingga karung di atas pohon itu terlihat sama tinggi dengan tempatku berdiri. Sekali lagi aku bertanya-tanya, mengapa ada karung di sini? Tapi,,, persetan dengan itu semua. Aku ingat medan ini, ini adalah Watu Godek, tempat perhentian kami malam ini. Alhamdulilah, Watu Godek dicapai sesuai dengan rencana awal (sekitar jam 9), tidak tengah malam seperti yang kuperkirakan.
Seperti yang sudah-sudah, begitu sampai di tempat istirahat kami langsung bagi tugas. Ada yang cari kayu untuk api unggun dan ada yang masak. Makanan terasa sangat nikmat, terutama setelah tenaga terkuras untuk menaklukkan medan. Malam ini kami tidak punya acara sepesial selain evaluasi. Pada umumnya peserta merasa medan yang dilalui terasa berat. Tapi ya inilah pendakian J Evaluasi selesai sekitar pukul 22:30 dan langsung dilanjutkan dengan tidur. Kupilih posisi paling atas, paling jauh dari api unggun, dengan pertimbangan aku tidur dengan sleeping bag, jadi tak perlu terlalu dekat api unggun. Biar hangatnya api unggun dinikmati peserta yang lain. Tapi tampaknya keputusanku salah,,,,
Ada 1 hal yang kutakutkan di malam ini. Saat siap-siap tidur, kutahu kalau Neo mengalami sesak nafas. Iya, sesak nafas memang sering kambuh saat kondisi seseorang capek atau kedinginan. Neo memang sudah diberi perawatan pertama, tapi skenario terburuk harus dipersiapkan. Dalam kondisi seperti ini, skenario terburuknya tentu saja membawa Neo turun lagi agar mendapat perawatan yang memadai. Pff,,, semoga hal itu tidak terjadi.
|


