| Pendakian Ciremai (Bagian Ketiga) |
|
|
|
| Selasa, 27 Oktober 2009 16:38 | |
|
--=Makan Siang=-- Selesai berkangen-kangenan dengan air, acara kami lanjutkan dengan memasak. Rangga kali ini yang jadi chef dapur kami. Kali ini ada beberapa menu, sayur makaroni, telur goreng, sarden, dan mie kuah. Chef Rangga kebagian masak nasi. Semua beras yang tersisa, dimasak. Sementara Rangga mengurus nasi, yang lain bagi tugas menyiapkan menu lainya. Ada yang sibuk buat telur goreng, aku kebagian masak sayur. Ada juga yang buat bubur instan sambil menunggu semua matang.
Begitu acara masak-memasak selesai sekarang tinggal memberi penilaiannya. Dimulai dari nasi, nasinya masih berupa karon. Karena berasnya kebanyakan, nasinya malah tidak matang dan menjadi karon. Banyak yang kami buang, kami pilih yang sudah matang saja. Makaroni sayurnya sukses ditambah sosis, telur goreng dan mie kuah berhasil dengan baik. Sedangkan sardennya cukup dihangatkan saja. Makan siang selesai, packing dan berangkat jam 14.30
-==Pulang Juga=-- Perjalan pulang ini sangat “ringan” dalam arti sebenarnya. Air minum banyak yang sudah habis, makanan juga begitu. Isi ransel tinggal perlengkapan tidur dan beberapa helai baju saja. Dan perjalanan pulang ini juga sangat “ringan” dalam arti yang bias. Jalanan menurun memberi kita kecepatan lebih dengan terori gravitasinya. Semua terasa cepat, dan tak terasa lama. Dan kami saling salip-menyalin dengan tim Tangerang lagi.
Perjalanan pulang ini kami selingi dengan canda tawa. Imam menjadi targetnya. Seperti kabar-kabur yang kita dengar, sepertinya Arjuna kita ini sedang berjuang memikat hati Srikandi. Entah bagaimana cerita awalnya, akupun baru tahu pas pendakian ini. Setiap ada celah, Imam selalu kami “jatuhkan”. Dan apapun yang kami bicarakan, ujungnya tetap ke Imam. Imam hanya bisa membela sekedarnya, tak mungkinlah dia melawan kami berlima. Kepasrahannya ini seakan membenarkan apa yang kami kira. Hehehehe
Perjalanan sedikit melambat ketika cedera lama Fajri kambuh. Lutut Fajri ternyata tidak kuat menahan beban tubuhnya. Kami berhenti di Pengalap untuk memulihkan cedera lututnya. Mulai dari sini Fajri kami pindah ke barisan paling depan. Aku jadi sweper sendirian di belakang. Akhirnya formasi pendakian yang sudah dipatenkan sejak jaman bauleha berubah. Aku dan Fajri sudah jadi tim sweper entah sejak kapan. Hampir disemua pendakian yang kami ikuti dapat dipastikan tim swepernya adalah kami. Sudah lama sekali kami melepas jabatan leader (terakhir jadi leader waktu masih SMA, 6 tahun lalu).
--=Lampu Kota=-- Masuk maghrib ketika kami tiba di Kuburan Kuda. Kami berhenti lama di sini, menunggu adzan selesai. Makan malam dengan roti dan mempersiapkan senter. Perjalanan malam ini begitu sepi. Tidak seperti tadi yang penuh canda tawa (tentang Imam), kali ini benar-benar tertutup mulut ini. Tidak ada tawa terdengar, tidak ada teriakan bersahut, semua hanyut dalam dunianya sendiri. Kata-kata hanya keluar ketika kami mendiskusikan tentang persimpangan mana yang harus kami ambil.
Kami berhenti lama lagi di atas Cibunar. Di sana pemandangan malam kota sungguh indah. Sejauh mata memandang hanya ada lampu, lampu, dan lampu. Sungguh sayang untuk dilewatkan. Di sini juga tim Tangerang beristirahat, menikmati lampu-lampu itu. Berjalan sedikit lagi dan sampai juga di Cibunar.
Kami berhenti di Cibunar untuk mengambil air dan istirahat. Kemudian perjalanan kami lanjutkan ke pos pendakian yang berjarak setengah jam dari sini. Kami sampai di pos jam sekitar jam 21.00. Senang juga akhirnya bisa melihat bangunan ini lagi. Tapi kami tak boleh berlama-lama di sini kalau masih ingin naik kereta ke Jogja. Yang pertama kami lakukan adalah lapor dulu. Kemudian kami bersih-bersih badan, ganti baju, packing lagi. Dan yang paling penting beli makan.
Sembari menunggu makan malam jadi, sekarang waktunya nego Pak Kusnadi untuk antar kami ke stasiun Cirebon. Waktu itu dia pasang tarif Rp 100.000,00. Imam yang kebagian jadi juru runding, akhirnya harga yang disepakati adalah Rp 75.000,00. Sambil nunggu makanan jadi, kami berburu cinderamata dari Ciremai. Kebanyakan dari kami membeli stiker dan gantungan kunci. Dan setelah dipikir-pikir, nasi pesenan kami lebih baik dibungkus saja demi menghemat waktu. Jam 22.00 kami meninggalkan pos pendakian ini
--=Selamat Jalan Cirebon=-- Angkot ini melaju kencang, jalanan lumayan sepi malam ini. Hanya ada kami berenam di angkot ini, serasa naik travel vip. Tak lama kemudian kami berpisah dengan Fajri di pertigaan Linggarjati. Fajri langsung ke Jakarta, kami ke Cirebon kota. Sepanjang jalan, hanya tersisa 4 orang yang bertahan, aku, Gunanda, Imam, dan Rangga. Banyak hal yang kami perbincangkan di dalam angkot vip ini. Mengenai pendakian Ciremai ini, gunung-gunung yang lain, kisah-kisah misteri dan masih banyak lainnya. Sambil bercerita, tak lupa aku menikmati jalanan Cirebon di malam ini. Jarang-jarang kesini, harus dinikmati setiap detilnya.
Kami datang tepat pada waktunya, kereta bengawan yang akan mengantar kami berangkat 30 menit lagi. Sampai di stasiun Cirebon kami langsung beli tiket kereta dan makan nasi bungkus. Hmm, nikmat sekali makan malam ini, nasi, telur, sambal, mie. Menunggu sebentar dan kami langsung bergabung dengan penumpang lain yang sudah berjubel-jubel di dalam gerbong kereta. Biarpun tak dapat tempat, yang penting kami bisa pulang. Jogja, kami datang!!
|


