arismaduta.org

Pendakian Ciremai (Bagian Kedua) PDF Cetak E-mail
  
Selasa, 27 Oktober 2009 16:36

-==Makan Malam=--

Sehabis Kuburan kuda kami langsung disambut medan dengan kemiringan 70-80 sekitar 200m, sungguh menguras tenaga. Setiba diatasnya ternyata ada jalan lain yang memutar dan lebih landai. Setalah melewati tanjakan penyesalan (karena tahu ada jalan memutar), medannya lebih ringan, sekitar 60-70. Kami juga bertemu dengan tim dari Tangerang, mereka berjumlah 10 orang. Meraka menjadi tim pembanding dalam perjalanan ini, kami saling salip-menyalip. Ketika kami berhenti istirahat mereka mendahului, begitu sebaliknya.

 

Tiga pos di atas Kuburan Kuda ternyata berdekatan. Target awal kami 4 pos kami lewati dalam 4 jam. Kuda-Pengalap kami tempuh 1 jam (sesuai target). Pengalap-Tanjakan Seruni-Tanjakan Binbin sangat berdekatan (1 jam perjalanan). Sampai Binbin, jalanan masih lumayan mudah (60-70). Menurut hitung-kasar, kami bisa sampai lebih cepat dari estimasi awal. Binbin-Tere kami target ditempuh dalam 1 jam (berarti hemat 1 jam)

 

Begitu keluar Binbin, jalanan mulai sulit. Jangan berharap menemukan tanah datar di sini. Tanjakan seperti tiada hentinya. Sudah lama kami berjalan, tapi Bapa Tere belum juga kelihatan. Akhirnya kami menemukan sebuah tanah lapang dan memutuskan memasak disini (17.45). Nesting, kompor, gas, parafin, beras, telur, minyak goreng, dan mie kami keluarkan. Menu kali ini adalah nasi omelet chef sodik, hehehe. Pertama-tama kami masak nasi dulu, dengan asistensi dari Feri nasiku masak. Nasi selesai berganti membuat omelet. Mie yang sudah direbus dicampur bumbu dan telur kemudian digoreng. Sesi pertama membuat omelet gagal, omelet pecah dan lengket di nesting. Ternyata minyaknya kurang banyak dan terlalu cepat dibalik. Sesi kedua, minyak kami tambah dan nesting di pindah ke kompor gas. Hasilnya, omlet mulai terlihat pada jalur yang benar, tidak pecah dan bisa dibalik dengan benar. Seterusnya, omelet selalu berhasil. Makan malam, istirahat, dan berangkat jam 20.00.

 

--=Malam Pertama=--

Setelah berjalan sebentar kami temukan Bapa Tere di atas kami. Tim Tangerang ternyata bermalam di sini dan kami terus berjalan. Malam ini rembulan terlihat diantara pepohonan menyinari jalan yang kami lewati. Hutan benar-benar asing bagiku ketika malam. Semua serba hitam dan misterius, entah apa yang bersembunyi di dalamnya. Aku hanya menatap kemana cahaya headlamp-ku menuju. Malam ini, hutan bukan milik kami.

 

Kami berhenti ketika mendapat sebuah tanah lapang yang luas. Bulan terlihat dengan jelas dari sini. Tempat ini ternyata adalah pos Batu Lingga. Menurut Cerita di sini dulunya ada sebuah batu besar dan menurut cerita masyarakat setempat dasar kawah gunung Ciremai sedalam Batu Lingga ini. Jadi kalau kita berjalan lurus dari Batu Lingga kita akan sampai di dasar kawah.. di sini kami juga menemukan sebuah memoriam, semoga dia tenang disisi-Nya, amin.

 

Dari sini jalanan mulai berbatu, dinginnya udara juga semakin terasa. Korban berikutnya dari pendakian ini adalah Rangga, dia mulai masuk angin. Mungkin karena sudah kecapekan dan dingin yang menusuk akhirnya kena masuk angin. Kami istirahat sebentar menunggu Rangga memulihkan diri. Rangga seperti sudah hampir mati saja, seperti Feri waktu diawal-awal perjalanan. Kami berjalan kembali untuk mencari tempat yang bisa untuk mendirikan tenda. Ada beberapa tempat datar tapi tidak cukup untuk mendirikan dua tenda. Jam 23.00 akhirnya kami menemukan tempat datar yang cukup luas. Kami bermalam di sini. Feri, Gunanda, dan Rangga di tenda Eiger, sisanya di tenda Reiner.

 

--=Pra Puncak=--

Sebenarnya alarm di hp sudah ku-set jam 4 tapi entah mengapa baru terdengar jam 5-an ya? Ternyata alarmnya sudah bangun dari tadi tapi kupingku masih tersumbat lelah. Semuanya masih malas bangun, pagi ini masih terlalu dingin untuk keluar tenda. Hanya aku dan Fajri yang di luar, menikmati semerawang cahaya mentari. Akhirnya semua bangun juga, setelah aku gangguin tidurnya. Masih malas memang, tapi kami harus segera berangkat. Semua perlengkapan kami tinggal di tenda. Kami naik hanya berbekal 2 botol air 1500 ml dan 2 botol 500 ml.

 

Berjalan 3 menit ternyata kami sampai di Buana 1. Aku hanya bisa tersenyum, mengingatkanku waktu pendakian Slamet dulu ketika kami bermalam tepat di bawah pos 5. Jalanan semakin sulit saja, banyak tempat dimana kami harus menaiki anak tangga setinggi 70-80 cm. Untung semua beban sudah kami tinggal di tenda kalau tidak mungkin kami akan kewalahan. Berjalan 1 jam kami sampai di Pengasinan, kami bertemu tim Kuningan di sini. Mereka sudah sampai di sini tadi malam. Setelah bercakap-cakap sebentar, kami naik lagi

 

Mulai dari sini, medan tanah, batu dan debu menjadi satu. Kaki harus berhati-hati melangkah kalau tidak ingin terpeleset. Ada banyak tempat yang batuannya mudah longsor. Ada juga tanah yang terlihat kuat tapi ketika diinjak pecah. Di sini yang perlu dipertajam adalah adalah ilmu prediksi. Kami harus pandai-pandai menghitung kekuatan tanah/batu yang kami injak apakah kuat menahan berat badan kami. Salah meprediksi, siap-siaplah terjatuh. Selain itu kami harus bisa membaca jalur, jangan hanya memikirkan langkah pertama kita tetapi juga 5-6 langkah kedepan kalau tidak mau salah jalan. Setelah berjibaku selama 1,5 jam akhirnya kami sampai juga di puncak Ciremai, 09-08-09.

 

--=Puncak=--

Puncak Ciremai adalah sebuah kawah mati dengan kedalaman 300-400 m dari bibir kawah. Kawah yang telah mati itu berwarna putih dengan sedikit warna cokelat di tepinya. Di dekat kawah juga terdapat sebuah hutan semak yang tidak luas tapi cukup memberi komposisi warna hijau yang dominan. Entah berapa diameter kawah ini, mungkin sekitar 1000 m. semuanya berupa batu dan tumbuhan semak. Dari atas sini, Gunung Slamet terlihat di sebelah selatan menyembul diantara awan. Awan-awan putih sangat kontras dengan warna biru, memberikan atasan yang terang dengan bawahnya yang hijau cokelat. Di kejauhan yang terlihat hanya warna biru, mungkin laut utara dan laut selatan.

 

Kami sangat senang ketika sampai di atas sini. Rasa capek hilang begitu saja, berganti dengan kegembiraan yang tak terkira. Senyum-senyum kemenangan keluar dari pipi ini. Tak lupa ucap syukur kami haturkan kepada Allah SWT atas karunia-Nya yang tak ada habisnya. Tak sia-sia perjuangan kami hari ini, akhirnya kami sampai di puncak Ciremai.

 

Acara selanjutnya adalah foto dan foto. Entah sudah habis berapa gambar, pokoknya banyak. Acara lainnya, tanda tangan di kaos yang sudah kubawa dari rumah. Ini adalah kaos keempatku. Tradisi ini aku mulai pada waktu aku naik gunung Lawu di tahun 2008. Kemudian aku lanjutkan sampai sekarang. Satu lagi acara yang mungkin tidak di semua gunung bisa dilakukan, telepon. Untuk pertama kalinya aku naik gunung bisa mendapat sinyal di puncaknya. Yang pertama kutelepon tentu saja dan tidak bukan adalah ayangku donk. ^_^

 

--=Haus=--

Setelah puas menikmati puncak Ciremai, kami turun jam 10.30. Sama sulitnya seperti naiknya, kami harus tetap berhati-hati. Selangkah demi selangkah kami menuruni medan berbatu. Ketika turun ini kami berjumpa dengan tim Tangerang yang menjadi teman perjalanan waktu naiknya. Sampai di Pengasinan istirahat sebentar dan melanjutkan langkah lagi.

 

Ada satu hal yang menggangu perjalanan turun ini, kami kehabis air. Awalnya kami hanya membawa air 2 botol 1500 ml yang kami plot cukup buat naik dan turun. Ternyata air itu hanya cukup untuk naik. Sampai puncak air sudah habis. Yang paling sengsara adalah Rangga. Sudah berapa botol air mineral dia razia, tetapi tak satupun ada airnya. Tapi dia terus mencari, lebih baik jadi pemulung botol aqua daripada mati kehausan, mungkin begitu prinsipnya. Akhirnya Rangga beruntung menemukan sedikit sisa kratingdeng, lumayan buat membasahi tenggorokan. Feri juga menemukan air dari botol aqua bekas. Tapi semua itu belum cukup mengobati rasa haus mereka. Waktu itu ada antangin cair, tanpa pikir panjang mereka berdua (Rangga dan Feri) meminumnya. Segar memang pada awalnya, tapi terasa panas berikutnya. Sungguh, perjalanan turun ini paling menyiksa bagi penenggak air.

 

Sampai di camp, target pertama kami adalah minum air!! Seperti tumbuhan layu yang diberi air, wajah mereka langsung sumringah begitu air lewat kerongkongan mereka. Sebenarnya aku masih punya sisa air sedikit, tapi kalau dibagi kesemua tidak akan cukup. Maka air itu kusembunyikan sampai semua tiba di camp. Satu pelajaran penting yang kami dapat hari ini. Bawa air sebanyak yang kalian bisa bawa!!

 

 

Login



Slide Show

  • An Image Slideshow
  • An Image Slideshow
  • An Image Slideshow
  • An Image Slideshow
  • An Image Slideshow
  • An Image Slideshow

Berita Singkat

Ade Satrio terpilih sebagai ketua umum Arismaduta untuk masa bakti 2010/2011
 
Arismaduta keluar sebagai juara pertama dalam Semarang Bird Watching Race 2009 untuk kategori pelajar
 
Pendidikan dan Latihan Arismaduta XI akan mengambil navigasi sebagai temanya, sama seperti diklat sebelumnya