arismaduta.org

Pendakian Ciremai (Bagian Pertama) PDF Cetak E-mail
  
Selasa, 27 Oktober 2009 16:32

9 Agustus 2009

--=Sebuah Pengantar=--

Awalnya, tidak terlintas dalam pikiranku untuk mendaki Ciremai. Setelah proyek Semeru gagal, peluang liburanku tinggal Penjaringan Minat Arismaduta. Waktu itu anak-anak jojga lagi kumpul di sekret, aku masih di kantor, ketika ayang sms kalau Gunanda mau pinjam ransel untuk ke Ciremai. Hari selasanya Gunanda ke rumah ambil ransel. Dari ngobrol-ngobrol sebentar itu aku jadi tahu ternyata mereka berencana berangkat hari jum’at (bukan kamis seperti yang kudengar sebelumnya). Aku pun tergoda, dan sebelum niat itu hilang, kuputuskan untuk ikut berangkat….

 

--=Kereta Indonesia=--

Meeting point pertama kami adalah stasiun Tulungagung. Kami bertiga (Aku, Feri, dan Gunanda) berangkat dari sini naik Matarmaja. Waktu sudah menunjukkan jam 17.23 tapi Matarmaja belum terlihat lokonya. Kami menunggu sambil berbincang-bincang dengan seorang teman yang telah mengantarku sampai di sini. Hampir setengah jam ketika loko putih itu terlihat, kereta yang mengantar kami ke Cirebon pun tiba.

 

Matar (begitu aku memanggilnya) yang ini terlihat “lebih cantik”. Gerbongnya baru saja dicat, kursinya masih baru, atapnya masih putih, lampu normal, dan kipas angin yang berputar. Sepertinya kereta ini baru saja diremajakan. Sepertinya, rencana PT KAI untuk meningkatkan pelayanan kepada pelanggan sudah mulai berjalan. Dengar-dengar semua kereta ekonomi antar propinsi akan di beri AC dan bebas dari asongan. Sekarang giliran kitalah yang menjaga, jangan sampai fasum (fasilitas umum) seperti kereta api ini tersentuh tangan-tangan vandalisme dan jangan lupa belilah tiket agar kereta di Indonesia semakin baik.

 

Hanya ada dua kejadian yang menurutku layak untuk diceritakan waktu naik Matar. Pertama ketika Feri mencoba ngajak ngobrol seorang cewek. Waktu itu aku masih duduk di kursi, di sebelahku ada seorang cewek. Karena capek duduk, aku tukar tempat dengan Feri yang masih berdiri. Mungkin untuk membunuh sepi, Feri mencoba mengajak ngobrol mbak yang duduk di sampingnya. Satu dua pertanyaan masih di balas oleh si wanita, tapi begitu masuk pertanyaan ke tiga, sebuah jawaban yang sedikit menyakitkan keluar. “Kenapa nanya-nanya!!”. Feri tersentak mendengarnya, gerbong kereta seakan menghimpitnya kemudian meremukkan tubuhnya. Feri terdiam, tak dapat dia menggerakkan jakunnya, sebuah jawaban yang telak memukul wajahnya hingga KO. Hehehehe

 

Yang kedua ketika pemeriksaan tiket. Waktu itu hanya aku yang beli tiket, yang lainnya jadi penumpang gelap. Tepat seperti yang kami duga, pemeriksaan terjadi di jalur Solo-Semarang. Aku yang beli tiket tenang saja ketika kondektur menanyakan tiketnya. Ketika giliran Gunanda dan Feri ada tiga opsi kemungkinan yang terjadi. Pertama, Feri dan Gun dimarahi dan diturunkan di stasiun terdekat. Kedua, mereka dikenakan denda dan harus membayar tiket 2x lipat. Ketiga, mereka berdamai dengan petugas dan memberi uang tahu sama tahu. Dan jawabannya adalah pilihan ketiga. Cukup dengan modal Rp 10.000,00/orang mereka berdamai, sebuah solusi gampang dan saling menguntungkan. Begitulah mental petugas kita dan penumpangnya. (no flame ^_^)

 

--=Terimakasih Telah Menanti=--

Jam menunjuk angka 6.30 ketika aku tiba ditempat kelahiran Prabu Siliwangi. Cirebon adalah kota yang berukuran medium, tidak sebesar Surabaya, namun lebih besar dari Kediri. Cirebon adalah kota pertemuan kebudayaan Jawa dan Sunda. Kita akan menemukan orang-orang bercakap dengan bahasa Sunda dan bahasa Jawa dalam sebuah keharmonisan. Bagi yang ingin berwisata budaya, Cirebon menawarkan 4 keraton sekaligus, yakni Keraton Kasepuhan, Keraton Kanoman, Keraton Kacirebonan, dan Keraton Keprabon. Semuanya memiliki arsitektur gabungan dari elemen kebudayaan Islam, Cina, dan Belanda. Kota ini juga terkenal sebagai penghasil udang.

 

Di Cirebon kami bertemu Tim Surabaya (Rangga dan Imam), mereka sudah sampai duluan. Setelah percakapan singkat kami langsung melanjutkan perjalanan ke Cilimus (Fajri sudah menunggu di sana), butuh waktu 1 jam untuk sampai ke sana. Kami turun di pertigaan Cilimus, orang di sini menyebutnya pertigaan Linggarjati. Acara selanjutnya adalah foto-foto di jalan Linggarjati. Acara dilanjutkan dengan naik angkot ke pos pendakian.

 

Sopir angkot yang kami naiki sangat ramah, namanya Pak Kusnadi. Waktu itu hanya ada kami berenam dalam angkot, jadi kami bisa leluasa duduk di mana saja. Beliau kemudian bercerita mengenai perjanjian Linggarjati dan pernik-perniknya. Kami juga diajak berfoto di depan monumen Linggarjati. Selanjutnya, beliau mengantar kami ke pos pendakian (biasanya sih cuma sampai monumen). Dan semua cukup dibayar Rp 3.000 saja.

 

Pos pendakian Ciremai ini sangat terawat. Tempat pendaftarannya tertata rapi dengan radio komunikasi di pojok kanan. Tidak ada sampah yang berceceran di sekitar pos pendakian, semua kelihatan bersih. Kamar mandinya pun juga wangi (tidak seperti di Slamet yang dekat kandang sapi, sempit, dan bau), ada tempat sholatnya juga. Benar-benar pos pendakian bintang lima.

 

--=Langkah Pertama=--

Selesai sarapan nasi campur kami langsung berangkat. Pos berikutnya adalah Cibunar, sekitar 1/2 jam perjalanan. Jalan menuju Cibunar masih gampang, campuran aspal dan makadam. Jalanan masih datar-datar saja, perkebunan penduduk berada di kanan-kiri jalan. Sempat kami melewati semacam villa dengan pemandangan yang bagus (persawahan dan kota).

 

Setengah jam pertama ini kami masih beradaptasi, nafas belum teratur, kaki kaget dipaksa kerja keras membawa ransel. Fery jadi korban pertama pendakian ini. Kami sering menuggui Feri ruku’, mungkin dia masih kaget karena sudah lama sekali tidak naik gunung. Setengah jam ini terasa sangat menyiksa. Sampai di Cibunar kami istirahat sebentar menata punggung dan mengatur nafas. Tubuhku sudah sedikit nyaman ketika kami kembali berjalan. Otot kaki sudah terbangun dari tidurnya, punggung sudah menyatu dengan ransel, nafas mulai teratur.

 

Medan selanjutnya mulai naik dan berdebu. Di sebelah utara terlihat Laut Jawa yang luas. Pohon pinus merah (kayunya berwarna merah karena jamur) menghias sisi kanan kami. Jalan berdebu mulai hilang ketika kami sudah masuk hutan. Pepohonan di sini masih bagus, pohon peneduh dengan semak-semak dibawahnya yang masih rimbun. Sesekali terlihat kera melintas di atas kami, mungkin dia bingung melihat temannya berjalan dengan dua kaki tidak bergelantungan seperti mereka. Pos demi pos kami lalui sebelum kami isitrahat di Kuburan Kuda pukul 14.20. Entah kenapa tempat ini disebut begitu, mungkin dulu ada kuda yang tewas dan dikubur disini. Kami tidak ambil pusing memikirkan nama ini, yang penting kami bisa istirahat.

 

Login



Slide Show

  • An Image Slideshow
  • An Image Slideshow
  • An Image Slideshow
  • An Image Slideshow
  • An Image Slideshow
  • An Image Slideshow

Berita Singkat

Ade Satrio terpilih sebagai ketua umum Arismaduta untuk masa bakti 2010/2011
 
Arismaduta keluar sebagai juara pertama dalam Semarang Bird Watching Race 2009 untuk kategori pelajar
 
Pendidikan dan Latihan Arismaduta XI akan mengambil navigasi sebagai temanya, sama seperti diklat sebelumnya