| Semarang Bird Watching Race 2009 |
|
|
|
| Selasa, 27 Oktober 2009 09:10 | |
|
Kali ini buat yang pertama kalinya kami ceritakan secuplik kisah kami yang berguna bagi kami dan teman-teman semuanya. Kisah ini adalah nyata dan bukan rekaan semata. Dan kami tak berhenti bersyukur kepada-Nya akan anugerah ini.
”Dan yang terakhir, juara pertama Semarang Bird Watching Race 2009 kita adalah...”. “ yak, dari SMA.....SATU....BO...YO...LA...NGU...ARISMADUTA TEAM”, “Wooeehh.. Woooeeehhh....kita menang cuy.. kita menang... alhamdulillah... alhamdulillah... ya Allah alhamdulillah. . .” “Silakan bagi perwakilan dari masing–masing pemenang maju ke depan...”
Kata-kata itu sampai sekarang dan selamanya akan selalu terngiang dalam benak kami. Kawasan kota lama Semarang, tempat itu menjadi saksi bisu perjuangan berat kami. Tidak berlama-lama, kami mengambil HP dan segera menelpon orang tua yang dari tadi sudah sangat kuatir. Terlihat wajah teman-teman sangat bahagia hingga tak bisa membedakan mimpi dan kenyataan. Kami mulai membayangkan lagi apa yang kemarin terjadi (FLASHBACK).
Dari stasiun Tulungagung kami diantar orang tua masing–masing. Setelah beli tiket kami menunggu kereta api Dhoho yang tiba sekitar jam 4 sore yang akan berbalik arah di stasiun Kertosono. Jangan kaget, itu wajar. Karena dari sana gerbong kereta akan dipindahkan ke belakang dan ganti arah. Setelah 5 jam perjalanan akhirnya tiba juga di stasiun Gubeng, Surabaya. Tapi seperti di film Spongebob ”1 jam kemudian”, ternyata Mas Mumun datang menjemput kami satu jam kemudian. Kami kira kami dijemput Mas Munir dan temannya dengan mobil AC atau ya motor sudah cukup kali ya. Tapi pada ternyata Mas Mumun datang pakai motor berboncengan dengan temannya.
”Sudah, thanks banget ya jo, aku turun di sini saja, loe terus saja”, mendengar kata-kata itu harapan kami pudar. Hehe.. ”Mas, kita mau kemana?” ”Ayo,sudah ikut aku“,katanya “Lha ini naik apa?” ”Halah ya JALAN SAJA“,dengan mudahnya. Hehehehe… Kami jalan sampai menemukan tulisan Fakultas Kedokteran UNAIR, kami berhenti untuk cari ”LAN” (tulisannya gitu benar ‘gak y?). Tapi waktu sudah menunjukkan jam 10 malam. Aku tidak yakin bisa dapat kendaraan.
”Mas mau kemana?”, terdengar dari seseorang yang tidak kami kenal. ”Mau ke ITS ”, Mas Mumun menjawab. “Yuk cari taksi “, “Sudah, kubayarin deh “, wah, dewa peri kaya datang. “Waduh gimana ya “,” Tapi 4 lo ya “, “Gimana?”. “...........” “Tak apa-apa”,hahaha... Baik juga orang ini. Langsung saja kami masuk taksi yang sebenarnya baru kali ini kami naik taksi. Gratis pula. Hehehe…
Sampai di tempat tujuan, kami lapar sehingga cari makan gratisan dengan lauk tipe orang-orang berduit. Hehe…(sengaja tak disebutkan menunya ya). Sekitar jam 11 malam kami menuju tempat kos Kak Manda dan Mas Imam. Kami tunggu mereka di pos jaga di perempatan jalan. Tak berapa lama mereka muncul dan kami dibawa ke tempat mereka. Aku dan Wira ke kosnya Mas Imam dan ternyata di sana ada komputer berisikan game Counter Strike. Gara–gara itu kami baru mulai tidur jam 1 pagi.
Keesokan harinya, sekitar jam 8, setelah foto–foto, kelompok kami bergabung dengan kelompok Mas Munir dari ITS. Namanya Mbak Ana dan Mbak Sari (Mbak gimana? Jadi minta nomornya mas yang itu gak?). Hehe... Jadi, tim Jatim ada 2, lengkap sudah semuanya. Akhirnya tanpa menunggu kami bergegas menuju terminal Bungurasih (naik taxi gratis lagi, uuuueeee.hehe). Setelah cari bus dan tawar–menawar akhirnya dapat bus cepat ke Terminal Tirboyo Semarang dengan harga 50 ribu per orang. Murah banget. Jam 9 perjalanan dimulai dari Bungurasih ke Tirboyo melewati pantura. Seru banget, baru kali ini kami lewat jalan itu. Busnya AC lagi, tak ada yang merokok, bersih, dan lajunya juga enak.
Perkiraan awal kami bakal sampai dalam 7 jam, tapi kenyataannya kami sampai Tirboyo jam 5 sore (8 jam). Dari Tirboyo langsung menuju kampus UNNES (kita naik mobil carteran). Ternyata di UNNES, kami sudah ditunggu panitia. Di sana kami bertemu dan berkenalan dengan anak KSSL (Yogyakarta). Bersama dengan peserta yang lain kami menuju daerah Banyumas, Limbangan, yang menjadi tempat kami bertanding. Di sana kami disediakan homestay (berupa rumah penduduk setempat). Sangat nyaman sekali, serasa rumah sendiri. Aku ditempatkan di homestay 11 bersama teman sekamarku dari KSSL, namanya Abid kuliah di UGM jurusan kedokteran hewan. Wira ditempatkan dengan Mas Munir yang berjarak sangat jauh dari base camp.
Keesokanharinya pukul 6 tepat Bird Watching Race dimulai. Kami pilih jalur ke-2 karena kami rasa di jalur itu akan ditemui banyak jenis burung. Tenyata benar, kami temui sekitar 30 jenis burung. Setelah kami identifikasi, pukul 10 tepat kami kumpulkan ke panitia. Setelah itu kami mengikuti Bird Watching indoor bersama teman-teman pelajar lainnya. Pada sore harinya kami menyajikan presentasi tentang ”Lestari Alamku, Lestari Burung Indonesiaku”. Alhamdulillah kami bisa membuat dewan juri tertawa terbahak-bahak.
Hari ke-3, hari yang kami nanti-nanti, jalan-jalan sekitar Semarang. Kami diajak naik bus ke Simpang Lima. Di sini kami berorasi ingin menyadarkan para masyarakat untuk melestarikan burung. Setelah itu kami menuju daerah Lawang Sewu, namun di sini ada pembangunan sehingga kami hanya bisa melihat dari depan. Tidak berhasil masuk ke Lawang Sewu, kami langsung menuju Tugu Muda yang berada di depan Lawang Sewu. Seperti biasa kami berfoto-foto dan bergaya aneh-aneh. Perhentian terakhir sekitar jam 13 siang di kawasan Kota Lama, tepatnya di Taman Srigunting. Di tempat itu dilaksanakan penutupan dan pengumuman hasil lomba.
Banyak peserta lain yang lesu dan pucat, ada pula yang bisa tertawa dalam kesedihannya. Ada yang diam saja, ada pula yang tertawa kegirangan karena puas akan hasil kerja kerasnya selama ini. Aku, Wira, dan Tri sungguh sangat bahagia saat itu. Satu orang yang terlihat tak kalah bahagianya, salah satu kakak alumni yang membimbing kami dan setia menemani hingga akhir lomba, Mas Munir. Mas munir rela berlatih bersama kami dari jam 6 pagi hingga jam 7 malam, tidak putus asa walau motor kami sempat nyungsep masuk sawah, kepanasan, tak berhenti menyemangati kami, tak mengeluh sewaktu membonceng Tri sampai sepeda motornya selip dan nyungsep ke tanah sepanjang jalan pantai selatan yang masih berupa tanah liat, tak pernah keliatan lapar walau kami sama-sama nekat ke pantai selatan hanya berbekal sebungkus roti 2 ribu-an, 5 atau 8 gery cokolatos, dan sebotol air mineral, dan tak pernah keliatan susah saat HP-nya sering mati karena baterainya habis.
Kak Munir, yah, mungkin dia sekarang bangga pada kami. Tapi jauh di hati kami, serasa ingin menangis saat hasil lomba diumumkan dan timnya tidak menang. Katanya,”Ah, tak apa-apa, yang penting kalian menang”. Segera saja kami berkumpul sambil bergantian memegang piala itu. HP kami tidak henti-hentinya menerima sms ”selamat atas prestasi kalian”. Kak Munir segera menelpon pak Agus Joko memberitahukan tentang hal ini. Tak terkecuali kami kabarkan berita ini pada teman-teman kami yang lain yang sudah mendo’akan kami.
Kami tidak menyangka akan hal ini. Awalnya kami hanya berniat untuk mencari ilmu dan pengalaman, ingin berkenalan dengan para pengamat, dan berbagi cerita dengan mereka. Tapi anugerah dari Allah ini sangat kami syukuri. Alhamdulillah.
Terakhir kami ingin ucapkan terimakasih kepada Mas Didik yang sudah membantu kami, para teman-teman yang selalu mendukung kami, Mas Imam dan Mbak Manda yang sudah menyediakan penginapan GRATIS. Hehe... Tak lupa terimakasih banyak kepada mas MUNIR yang sudah banyak disebutkan di atas. Terimakasih banyak pada kawan-kawan KSSL, PELATUK, HELIASTER, IPB BANDUNG, BIONIK, GC, dan yang belum disebutkan. Terimakasih kepada panitia Semarang Bird Watching Race, Mbak Yuli, Mas Ruby, Mbak Lia (mbak kamu mirip banget dengan temanku). Trimakasih buat Mas Abid yang selalu membangunkanku jam 5 pagi. Terimakasih banyak untuk dukungannya hingga kami meraih apa yang jadi impian kami. Terimakasih.
_Collocalia_ ARISMADUTA _AR 127, 129,132 LINTAS DASA_
|


